Translate

Selasa, 18 Agustus 2009

PERCATURAN POLITIK DAN POLITIK PERCATURAN


Catur adalah permainan yang mengandalkan olah otak dalam bermain. Uniknya dalam permainan ini menggambarkan pertempuran dua kerajaan yaitu kerajaan “Putih” dan kerajaan “Hitam”. Berbeda dengan ilmu hitam dan ilmu putih dalam dunia klenik perdukunan. Warna hitam dan putih di dalam catur dipergunakan hanya untuk membedakan buah yang dimainkan oleh para pecatur, sekalipun dalam beberapa aturan permainan kenyataan warna hitam dipojokkan karena buah putih dalam pembukaan awal permainan selalu melangkah lebih dulu, entah ini secara kebetulan atau sejarah catur lahir dari kalangan orang berkulit putih, sehingga sentimen warna terasa dominan dalam permainan catur. Permainan catur sangat kompleks dengan strategi, sehingga dalam kamus politik Indonesia, konstelasi politik pun diibaratkan dengan istilah “Percaturan Politik”.

Sejak tanggal 9 Agustus 2009 dan berakhir pada tanggal 15 Agustus 2009, di Kota Bima yang terletak di ujung timur pulau Sumbawa Provinsi NTB telah berlangsung Turnamen terbuka Catur tingkat Nasional yang dihadiri Master-Master baik tingkat Nasional sampai Grand Master seperti Susanto Megaranto, H.Ardiansyah, Utut Ardianto, dan bahkan Master FIDE dari Negara Jiran Malaysia datang untuk memperlihatkan kebolehannya dalam mengolah otak untuk saling mengalahkan permainan catur. Turnamen ini dilaksanakan disamping sebagai ajang untuk memperkenalkan Kota Bima sebagai salah satu Kota Wisata di kawasan Timur Indonesia yang sekaligus dirangkaikan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke 64.


Menariknya, dalam sambutan Utut Ardianto yang hadir atas nama PB PERCASI Pusat, mengatakan bahwa turnamen tersebut adalah turnamen terbuka dengan hadiah terbesar saat ini dalam sejarah Catur Indonesia yaitu Rp 50 Juta (Lima Puluh Juta Rupiah) untuk Juara I, dan total hadiah 200 Juta lebih. Turnamen sebelumnya sekalipun dilaksanakan di Jakarta hanya menyediakan hadiah untuk Juara I sebesar Rp. 15 Juta (Lima Belas Juta Rupiah). Kemudian Utut merasa tertantang, apalagi setelah mengikuti perhelatan pilihan legislatif dan ternyata terpilih atas nama rakyat untuk duduk di kursi empuk gedung DPR Pusat. Utut prihatin dengan kondisi kehidupan pecatur Indonesia yang kurang mendapat perhatian atau kelayakan sebagaimana atlit atau olahragwan lain. Utut mengatakan demikian tentunya tidak asal bunyi, karena selama ini aktif berkecimpung di PB PERCASI, sehingga tahu persis kondisi keuangan organisasi yang namanya PERCASI tersebut.

Keberanian Walikota Bima mengangkat Catur sebagai olah raga otak menjadi olah raga bergengsi adalah langkah yang tepat dalam rangka apresiasi terhadap permainan yang sangat merakyat ini. Kenyataan bahwa catur ada dimana-mana terutama di negara yang mayoritas rakyatnya adalah kaum elit alias ekonomi sulit. Catur ada di terminal, ada di emperan, ada di sudut pasar, ada di pos ronda, pos polisi, pos jaga tentara dan masih banyak tempat yang komunitasnya kebanyakan menyukai permainan catur. Hal ini terjadi karena catur adalah permainan yang digemari masyarakat disamping karena harganya yang sangat murah. Secara politis juga sangat menguntungkan apabila dimanfaatkan sebagai media komunikasi politik terutama untuk merebut hati rakyat. “Gens Una Sumus” adalah motto bagi pecatur yang artinya “Kita adalah satu keluarga”. Bagi seorang pemimpin yang benar-benar empati terhadap penderitaan rakyat serta merakyat dalam kepemimpinannya, maka motto seorang pecatur sangat pas untuk diadopsi dan biasanya pemimpin tersebut menyukai permainan catur (walaupun hanya sekedar hobby).


Gebrakan Walikota Bima dan pernyataan Utut Ardianto adalah merupakan langkah maju dalam dunia olah raga otak yang selama ini kurang mengundang minat sponsor karena sedikit memiliki nilai promosi terhadap produk. Jika dicermati, catur sebenarnya dapat dijadikan indicator untuk mengetahui semangat berfikir bagi masyarakat dengan asumsi semakin banyak pecatur disuatu wilayah maka semakin banyak pula masyarakat yang menyukai berfikir dalam berbagai hal, dengan demikian berpotensi untuk melahirkan para ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu. Catur juga berlatarbelakang permainan terhormat, karena merupakan permainan para raja dan panglima perang.
Harapan ke depan adalah para politisi dari pusat sampai daerah sebaiknya mempertimbangkan dan meninjau kembali semua kebijakannya jika masih menganaktirikan catur, dan jangan sekedar politik dijadikan permainan catur atau memasuki arena percaturan politik, tetapi juga harus berpolitik dengan permainan catur atau memasuki arena politik percaturan untuk meraih simpati masyarakat. Dengan demikian dapat terpilih dalam pileg, pilbub, pilgub, maupun pilpres atau mempertahankan sebagai juara bertahan dalam pileg, pilbup, pilgub dan pilpres.

Senin, 03 Agustus 2009

REVITALISASI PUSKESMAS

Oleh : Agus Supeno

Pada tahun 2004, Menteri Kesehatan telah menerbitkan SK Menkes Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 yang dalam pendahuluan telah mengidentifikasi berbagai masalah pelaksanaan Puskesmas dari sejak awal berdirinya Puskesmas pada tahun 1968 hingga tahun 2004 ketika implementasi Undang-Undang Otonomi Daerah mulai menyeluruh dilaksanakan di seluruh Indonesia. Adapun masalah yang dihadapi sesuai termaktub dalam pendahuluan (Depkes, 2004) antara lain :

1.Visi, misi dan fungsi Puskesmas belum dirumuskan secara jelas, sehingga pelaksanaan program Puskesmas dan keterkaitannya dengan program pembangunan kesehatan secara keseluruhan belum optimal.
2.Beban kerja Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota kurang berjalan. Kedua, karenan DInas Kesehatan Kabupaten/Kota yang sebenarnya bertanggungjawab penuh terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan secara menyeluruh di wilayah kabupaten/kota lebih banyak melaksanakan tugas-tugas administrative.
3.Sistem manajemen Puskesmas yakni Perencanaan (P1) yang diselenggarakan melalui mekanisme Perencanaan Mikro (micro planning) yang kemudian menjadi Perencanaan tingkat Puskesmas, penggerakan pelaksanaan (P2) yang diselenggarakan melalui Lokakarya Mini serta pengawasan, pengendalian dan penilaian (P3) yang diselenggarakan melalui mekanisme Stratifikasi Puskesmas yang kemudian menjadi Penilaian Kinerja Puskesmas, dengan berlakunya prinsip otonomi perlu disesuaikan.
4.Pengelolaan kegiatan Puskesmas, meskipun telah ditetapkan merupakan aparat daerah tetapi masih terlalu bersifat sentralsitik. Puskesmas dan daerah tidak memiliki keleluasaan menetapkan kebijakan program yang sesuai dengan kebutuhan masayarakat setempat, yang tentu saja dinilai tidak sesuai lagi dengan era desentralisasi.
5.Kegiatan yang dilaksanakan Puskesmas kurang berorientasi pada masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat setempat. Selama ini setiap Puskesmas dimanapun berada menyelenggarakan upaya kesehatan yang sama.
6.Keterlibatan masyarakat yang merupakan andalan penyelenggaraan pelayanan kesehatan tingkat pertama belum dikembangkan secara optimal. Sampai saat ini Puskesmas kurang berhasil menumbuhkan inisiatif dan rasa memiliki serta belum mampu mendorong kontribusi sumber daya dari masyarakat dalam penyelenggaraan upaya Puskesmas.
7.Sistem pembiayaan Puskesmas belum mengantisipasi arah perkembangan ke depan, yakni system pembiayaan pra-upaya untuk pelayanan kesehatan perorangan.

Hasil identifikasi masalah tersebut yang sebenarnya timbul dari fakta dilapangan dari sebelum otonomi daerah hingga pelaksanaan otonomi daerah yang juga merupakan prediksi sebagai akibat adanya kekhawatiran dampak negative otonomi daerah dalam pengembangan Puskesmas ke depan. Terlepas terbukti atau tidak, maka pada era desentralisasi sekarang ini untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal di Puskesmas baik pelayanan gedung dan pelayanan diluar gedung, sangat dibutuhkan komitmen pemerintah daerah secara komprehensif dan sinergis dalam mengambil kebijakan di bidang kesehatan.

Komitmen Komprehensif

Peranan eksekutif dan legislative dalam era otonomi daerah relative luas jika dibandingkan dengan era sebelum otonomi daerah. Peranan luas ini bisa menjadi paradoks dari apa yang sudah dibangun sebelumnya. Ruang keputusan (Decision Space) semakin lebar justru dapat untuk memutuskan hal-hal yang lebih bersifat unrasional.Oleh sebab itu perlu adanya komitmen komprehensif oleh pemerintah daerah yang harus dibangun antara lain :

1. Profesionalisme dan kompetensi sebagai pertimbangan wajib dalam penempatan SDM di Dinas Kesehatan (Fit and Proper Test oleh lembaga independent adalah jawaban yang paling rasional) mengingat bahwa Bab II Keputusan Menkes No 128/Menkes/SK/II/2004, Konsep dasar puskesmas (Depkes, 2004) menyebutkan Puskesmas hanya bertanggungjawab untuk sebagian upaya pembangunan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, sehingga pengaruh dinas kesehatan sangat kuat terhadap operasional UPTD Puskesmas.
2. Pemerintah daerah harus menempatkan SDM di Puskesmas secara proporsional berdasarakan pertimbangan kebutuhan tenaga kesehatan minimal (akan lebih mudah apabila stratifikasi benar-benar dilaksanakan), sehingga kemungkinan terjadinya kekurangan tenaga sebagai akibat distribusi yang terkonsentrasi pada wilayah tertentu karena adanya kemudahan mutasi dikarenakan pertimbangan asal petugas.
3. Pemerintah daerah/pusat (BKD/BKN) harus mempertimbangkan dalam penempatan jabatan structural baik di dinas maupun di puskesmas tidak diisi oleh tenaga fungsional, karena akan memperuncing konflik yang disebabkan adanya kecemburuan dari sisi kepangkatan dan kesempatan. Secara umum tenaga fungsional jenjang kepangkatan lebih tinggi dari tenaga kesehatan yang nonfungsional dan structural, sehingga peluang karir tenaga nonfungsional semakin tertutup seperti panggang jauh dari api.
4. Punishment yang tegas dalam system kepegawaian karena pada dasarnya jumlah tenaga kesehatan semakin meningkat jumlahnya dan terjadi antrian panjang. Hal ini akan lebih mudah dan lebih efektif jika menggunakan tenaga kontrak terutama dalam pemberhentian ataupun perekrutan sehingga terjadi persaingan yang lebih kompetitif, karena apabila petugas tidak bekerja secara optimal, pemerintah dapat dengan mudah mengganti dengan tenaga yang lebih produktif.

Apabila komitmen ini dapat diterapkan, maka untuk pelaksanaan revitalisasi Puskesmas dapat berjalan dengan lancar. Secara umum pemerintah baik pusat maupun daerah telah mengucurkan dana yang cukup besar dalam pemenuhan fasilitas dan infra struktur yang memadai.

Komitmen pemenuhan anggaran kesehatan secara politik sangat menguntungkan baik bagi masyarakat ataupun stakeholder (jabatan politik) karena memiliki nilai promotif dalam upaya melanggengkan kekuasaan. Akan tetapi yang sulit disadari, bahwa kemampuan SDM perencanaan memiliki pengaruh besar dalam penggunaan anggaran secara efektif dan efisien, hal ini di dukung hasil penelitian yang membuktikan bahwa lemahnya kemampuan sebagian petugas kesehatan dalam berbagai aspek proses perencanaan khususnya pada kabupaten/kota merupakan salah satu kendala dalam implementasi desentralisasi di bidang kesehatan (Bakri, 2001). Demikian juga penelitian Sukarna dan kawan-kawan (2006) di Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dalam kesimpulannya juga mengatakan bahwa dinas kesehatan tidak mampu mengalokasikan anggaran sesuai kebutuhan disebabkan SDM perencana belum memiliki pengetahuan dan kemampuan yang memadai untuk mengalokasikan anggaran.

Pada dasarnya kebijakan dasar Puskesmas yang tertuang dalam SK Menkes Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 adalah sesuatu yang sangat ideal, ini dapat terwujud jika semua pemerintah daerah memiliki komitmen bersama untuk membatasi intervensi politik dalam upaya pembangunan bidang kesehatan.

Daftar Pustaka

Bakri, H. (2001) Penguatan Sistem Perencanaan di Kabupaten/Kota [File Komputer]

Sukarna, L.A., Budiningsih,N., dan Riyarto Sigit (2006). Analisis Kesiapan Dinas Kesehatan dalam Mengalokasikan Anggaran Kesehatan pada Era Desentralisasi. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, vol.9 (1) Maret, halaman 10-18.

Departemen Kesehatan RI. (2004) Keputusan Menkes RI Nomor: 128/Menkes/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (2002a) ARRIME Pedoman Manajemen Puskesmas. Jakarta.

Jumat, 31 Juli 2009

JOGJA KEMBALI

KETIKA LULUH LANTAK DALAM KOBARAN REVOLUSI
SEMANGAT RAKYAT MELENGGANG DI CAKRAWALA
SEGELINTIR ILMUWAN DAN ILMUWATI, SEGELINTIR PAKAR
SEGELINTIR CENDEKIAWAN.......YANG BANYAK HANYA
MEREKA YANG MENIMANG PACUL DAN CAMBUK PENGHALAU TERNAK
DI ANTARA PAGI DAN SENJA.....MALAM BUKAN PULA MELEPAS PENAT
ENTAH APA YANG AKAN DIKATAKAN REMBULAN PADANYA
MEREKA YANG HIDUP DENGAN VISI SEHARI
MAKAN TIWUL APA MAKAN UBI
TETAPI JOGJAKU TETAP KEMBALI

SETENGAH ABAD BERLALU..........TERSISA SAKSI BISU
YANG DISELIMUTI DEBU
SEMANGAT RAKYAT MELENGGANG JADI TONTONAN
PARA KEPARAT .......
HARA KIRI KEMBALI TERJADI ......
BUKAN MELAWAN PENJAJAH ASING YANG BAU PESING
TAPI MELAWAN TANGIS BOCAH TAK BERDOSA
YANG HARAPANNYA TINGGAL TATAPAN HAMPA
ADA DI SUDUT PASAR, ADA DI PRAPATAN, ADA DI EMPERAN
ADA DI......GUNUNG KIDUL, ADA DI BANTUL, DI SLEMAN
SEGUDANG ILMUWAN DAN ILMUWATI, SEGUDANG PAKAR, SEGUDANG CENDEKIAWAN
DAN JOGJAPUN TETAP KEMBALI................
KEMBALI TERPURUK...........AMBRUK..........BRUK
LIHATLAH ....GATOT KACA KINI TIDAK BERDAYA
KURAWA MENEPUK DADA
PULUHAN SENGKUNI LEHA-LEHA BEREBUT LAPTOP
KETIKA RAKYAT MENGAIS DI RERUNTUHAN PUING-PUING
KAPAN JOGJAKU KEMBALI.......
JOGJA, 7 MEI 07

Korupsi di Indonesia seperti Fenomena Gunung Es

Korupsi di Indonesia adalah masalah yang sangat serius dan membutuhkan pemikiran keras dalam upaya memberantasnya. Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibentuk berdasarkan UU No. 30 tahun 2002 sebagai lembaga independent merupakan bukti keseriusan Pemerintah dalam upaya memberantas korupsi. Beberapa tahun belakangan KPK telah menunjukkan prestasi yang positif ini terbukti dengan tertangkapnya beberapa koruptor yang notabene merupakan orang-orang penting di negeri ini. KPK berhasil menepis isu “ Tebang Pilih” dalam pemberantasan korupsi, dan indicator pentingnya adalah penangkapan Aulia Pohan yang tergolong merupakan orang dekat Presiden (Besan Presiden RI).

KPK dalam beberapa tindakannya juga telah membuktikan sebagai lembaga yang benar-benar kredibel dan dapat dipercaya. Ranah DPR, Kepolisian, Kejaksaan, dan Kehakiman yang pada masa sebelum reformasi dianggap sebagai ranah sakral dan kebal hukum ternyata KPK telah memasukinya untuk memburu koruptor yang bercokol dalam lembaga-lembaga tersebut.

Keberhasilan KPK dalam mengungkap berbagai kasus korupsi di Indonesia menimbulkan beberapa pertanyaan. Apakah korupsi di Indonesia akan tuntas atau apa yang telah dilakukan oleh KPK merupakan suatu permulaan dari sebuah upaya yang sudah cukup menelan biaya banyak dalam memberantas korupsi ?. Pernyataan berbagai lembaga survey korupsi baik yang berkapasitas Internasional ataupun nasional tentang buruknya korupsi di Indonesia dan mencuatnya berbagai pemberitaan di media masa kemudian dengan adanya tuntutan keseriusan pemberantasan korupsi di daerah-daerah yang dilakukan oleh masyarakat, hal itu semua mengindikasikan adanya suatu “fenomena gunung es” terhadap masalah korupsi di Indonesia.

Pengungkapan korupsi saat ini diasumsikan sebagai puncak gunung es di tengah laut yang tampak hanya ujungnya, akan tetapi yang tidak tampak sebenarnya sangatlah besar. Artinya bahwa pekerjaan rumah KPK sangat banyak dan perjalanan dalam menuntaskan pemberantasan korupsi masih panjang. Kekhawatirannya adalah jika koruptor di Indonesia memiliki semboyan “gugur satu tumbuh seribu” yang dikarenakan lemahnya supremasi hukum. Sebuah ilustrasi sederhana berikut dapat memberikan gambaran mengapa koruptor tidak kapok dan hukuman dia dapatkan tidak menimbulkan efek jera pada koruptor baik yang sudah tertangkap maupun belum terungkap.

Apabila seseorang pejabat di Departemen Kesehatan misalkan melakukan korupsi sebesar lima milyar rupiah (Rp. 5 M) dalam pengadaan alat kesehatan dan kemudian di depositokan, maka bunga deposito lebih dari cukup untuk pensiun jika tertangkap dan harus mendekam di hotel prodeo selama lima tahun yang ternyata hanya dilakoni tiga tahun, karena dipotong berbagai prestasi selama menjalani masa hukuman seperti berkelakuan baik, remisi pada hari raya, remisi hari besar nasional, atau yang lebih ekstrim lagi adalah lancarnya upeti kepada sipir penjara yang bergaji sangat kecil. Penghasilannya tidak bisa menutupi kebutuhan sehari-hari karena anaknya yang sedang kuliah di fakultas hukum membutuhkan biaya relatif besar. Dengan demikian hotel prodeo pun disulap menjadi hotel berbintang.

Ilustrasi di atas bukan sesuatu yang mustahil terjadi di Indonesia, dan lebih pantas disebut sebagai lingkaran setan yang terjadi dalam system pemerintahan Indonesia. Dalam konsep New Public Management menurut Mahmudi (2005), yang menjadi masalah dalam penerapan di negara berkembang seperti Indonesia salah satunya adalah lemahnya penegakan hukum. Alasan yang sama juga berpotensi sebagai penyebab mewabahnya korupsi di Indonesia. Proses tender, proHarapan publik saat ini hanya pada lembaga Independent seperti KPK dan LSM, karena publik telah kehilangan kepercayaan kepada lembaga-lembaga kontrol pemerintah. ses legislasi, merupakan lahan subur untuk tumbuhnya korupsi. Intervensi politik yang besar termasuk politisasi penyediaan pelayanan publik, pemberian kontrak kepada kroni-kroni penguasa (Mahmudi, 2005) merupakan faktor utama lainnya selain lemahnya penegakan hukum.

Regulasi pemerintah yang mengatur proses pengadaan barang dan jasa, diyakini belum dapat menekan tingkat kebocoran karena korupsi. Masih banyak celah kosong yang memberikan peluang untuk terjadinya kebocoran.dalam proses pelaksanaan tender di Pusat. Pada tingkat pusat, kemungkinan masih dapat untuk dilakukan kontrol terhadap celah-celah kosong tersebut terutama oleh pihak KPK. Sedangkan di daerah lembaga kontrol tidak berfungsi optimal bahkan boleh dikatakan mandul seperti inspektorat, BPKP, dan dari pihak masyarakat seperti LSM di daerah yang kekurangan financial sehingga justru terjadi paradoksal dari fungsi LSM itu sendiri. Permasalahan yang timbul justru karena proyek-proyek tersebut merupakan jatah dari gubernur, bupati/walikota, anggota dewan yang terhormat, dan kroni-kroni mereka, sehingga antara mereka sudah TST (Tahun Sama Tahu). Di sisi lain KPK jangkauannya terbatas sehingga hanya mengandalkan pengaduan yang sebenarnya kasus korupsi bukanlah delik aduan. Apakah adanya jaminan keamanan mutlak bagi si pelapor ?. Apakah berdampak langsung terhadap kesejahteraan si pelapor ?. Apakah tindakan yang mengandung resiko tinggi sesuai dengan imbalan yang di dapat bagi pelapor ?.

Korupsi di Indonesia berjalan secara sistematis, maka upaya pencegahan dan pemberantasannya adalah dengan memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan, atau memperbaiki komponen sistem secara gradual terutama dengan memotong mata rantai pada lingkaran setan. Harapan publik saat ini hanya pada lembaga Independent seperti KPK, LSM, serta Media Massa yang ada karena publik telah kehilangan kepercayaan kepada lembaga-lembaga kontrol pemerintah. Semoga KPK dapat meningkatkan prestasi, karena asumsi korupsi di Indonesia seperti “Fenomena gunung es” adalah realita saat ini yang tidak dapat dipungkiri.

Daftar Pustaka :

Dunn, W.N. (2000) Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hasibuan, M.S.P (2006) Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara. Jakarta.

Mahmudi (2005) Manajemen Kinerja Sektor Publik. Unit Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN. Yogyakarta.

Muhadjir, H.N. (2000) Kebijakan dan Perencanaan Sosial Pengembangan Sumber Daya Manusia Telaah Cross Discipline. Rake Sarasin. Yogyakarta.

Minggu, 31 Mei 2009

Identitas Capres & Cawapres

Percaya atau tidak, ini kalau orang gila bicara tentang identitas capres dan cawapres. Indentitas dengan inisial masing-masing capres seperti JK-Win, Mega pro, dan SBY, semuanya terkait dengan perusahaan besar motor dunia yang pada saat ini menguasai pasar motor Indonesia. Sepertinya nama tersebut juga selaras dengan situasi dan kondisi pasar capres...percayakah anda ?

JK-Win : Win adalah produk Honda yang diproduksi kisaran tahun 90-an dan sekarang sudah tidak diproduksi lagi alias tergolong motor ceketer, sebagaimana JK adalah capres yang paling tua umurnya, ya....syukur-syukur masih laku atau masih ada suku cadangnya.

Mega Pro : Mega pro adalah produk Honda juga yang gedenya kira-kira segede ibu Mega (gedean dikit dibandingin Win), dimana termasuk produk andalan dari Honda untuk merebut pasar Indonesia. Sayangnya Megapro merupakan hasil modifikasi dari GL Pro, produk ini seangkatan dengan Honda Win yang diproduksi kisaran tahun 90-an, dan konsumen tahu kualitas serta kehandalannya. Salah satu kekurangannya adalah tidak semua medan bisa dilalui dengan baik. Kalo main babat pake yang satu ini resikonya tanggung aje sendiri.

SBY Berboedi : Suzuki Bersama Yamaha (SBY), merupakan gambaran dari sebuah kongsi besar (kira-kira koalisi dalam ranah politik) dua perusahaan motor raksasa yang sekarang ini sedang diuji eksistensinya dalam kondisi krisis global. Ini kan hampir sama dengan kondisi SBY saat ini yang dikerubuti partai-partai menengah di parlemen dan partai gurem yang gagal karena tidak sesuai ambang yang ditentukan untuk dapat kursi diparlemen.

Harus diakui Win dan Megapro hanyalah segelintir dari produk Honda, yah jelas ga ada apa-apanya dibandingin Suzuki bersama Yamaha yang notabene merupakan dua perusahaan besar yang memiliki produk mulai dari ceketer sampai motor mewah yang dinaiki rossi (tanya ama komeng kalo ga percaya!!!). Percaya atau tidak sebaiknya anda tidak percaya karena ini hanyalah analisis orang frustasi yang tidak ada kerjaan lain, kerjanya cuma menganalisis masalah orang-orang bermasalah di negeri ini, Indonesia Raya tercinta.

MARI KITA BUKTIKAN.......TUNGGU TANGGAL MAINNYA......


OK, ini adalah perkenalan saya kepada anda bagi yang mau membaca tulisan ini

-sugayes 2009-